Apakah Perbedaan Anak Alergi Susu Sapi dan Intoleransi Laktosa?

Anak alergi susu sapi dan intoleransi terhadap laktosa merupakan dua hal yang berbeda. Namun tak jarang munculnya kesalahpahaman dalam identifikasi dua kondisi tersebut karena walaupun gejala yang ditimbulkan berbeda, tapi gejala tersebut mirip-mirip. Walaupun begitu, penyebab alergi terhadap susu sapi dan intoleransi laktosa berbeda. Sebaiknya anda mengenali perbedaan antara alergi susu sapi dan intoleransi laktosa agar bisa memberikan penanganan yang tepat bagi buah hati anda sehingga gejalanya dapat mereda dengan lebih cepat. Secara umumnya, untuk anak alergi susu sapi, biasanya alergi tersebut disebabkan oleh reaksi abnormal dari sistem daya tahan tubuh anak ketika tubuh kontak dengan alergen atau susu sapi tersebut. Sedangkan pada intoleransi laktosa disebabkan karena tubuh tidak mampu mencerna kandungan laktosa yang ada pada susu sehingga muncul gejala-gejala tersebut.

Gejala yang timbul pada anak alergi susu sapi dan anak yang memiliki intoleransi laktosa bagaikan sebuah koin dengan dua sisi yang berbeda. Sekilas terlihat sama, namun sebenarnya jika ditelisik lebih dalam sangat berbeda. Alergi susu sapi biasanya terjadi hanya pada 2 hingga 7% bayi yang ada di dunia. Terutama bayi yang memiliki eksim berlebih sangat mudah untuk mengalami alergi terhadap susu sapi. Sedangkan intoleransi laktosa terjadi ketika bayi memiliki kesulitan mencerna laktosa yang merupakan gula alami yang ada dalam susu. Biasanya intoleransi laktosa terjadi setelah terjadinya infeksi pada perut, biasanya infeksi ini terjadi selama 4 minggu sebelum akhirnya usus sembuh dan akhirnya akan mengalami kerusakan laktosa.

Terkadang protein pada susu sapi juga dapat masuk melalui ASI kemudian terminum oleh bayi. Maka dari itulah anda sebagai ibu juga harus berhati-hati. Anda harus menjaga asupan makanan dan minuman yang anda konsumsi, terutama jika anak alergi susu sapi. Mengapa susu sapi dapat menyebabkan alergi? Karena susu sapi mengandung dua jenis protein yang dapat menyebabkan alergi.

Kedua protein tersebut adalah sebagai berikut :
1.Whey
Merupakan dadi yang nantinya terbentuk saat susu berubah menjadi asam.
2.Kasein
Merupakan bagian berair dari susu ketika curd hilang.

Bayi anda kemungkinan memiliki alergi terhadap salah satu atau kedua protein tersebut sehingga menyebabkan timbulnya reaksi alergi ketika kontak dengan susu sapi.
Dokter dapat mengetahui dengan lebih jelas apakah anak anda memiliki alergi atau tidak terhadap susu sapi dengan mengambil sampel darah dan dengan mengetahui reaksi bayi ketika kontak dengan susu sapi. Anda tidak perlu khawatir jika dokter akan mengambil banyak sampel darah, karena jumlah darah yang diambil hanyalah sedikit sehingga bayi anda tidak akan merasakan sakit. Apabila anak alergi susu sapi dari hasil pemeriksaan tersebut, maka anda harus mulai menjaga makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh anak anda dan juga diri anda sendiri terutama bila anak anda masih membutuhkan ASI ekslusif.
Apabila anak alergi susu sapi, reaksinya dapat terlihat dalam hitungan menit maupun hitungan jam setelah kontak dengan susu sapi. Reaksi yang biasanya terjadi adalah eksim, diare, sembelit, refluks hingga berat badan tidak dapat bertambah. Memang beberapa reaksi diantaranya terlihat mirip dengan sakit perut biasa yang sering dialami oleh bayi dan anak-anak. Akan tetapi, bila anak anda terus menangis tanpa berhenti bisa jadi salah satu penyebabnya karena anak anda memiliki alergi terhadap susu sapi. Namun perlu diingat, anda tidak boleh mengambil kesimpulan sendiri sebelum anda berkonsultasi dengan dokter yang lebih ahli.

Sedangkan reaksi intoleransi berbeda dengan reaksi anak alergi susu sapi karena intoleransi laktosa tidak melibatkan sistem daya tahan tubuh. Ketika anak memiliki intoleransi laktosa, kemungkinan besar anak anda mengalami kekurangan enzim laktase yang diperlukan untuk menghasilkan laktosa. Kekurangan enzim laktase menyebabkan tubuh tidak mampu mencerna kandungan gulu alami di dalam susu, yaitu laktosa. Karena itulah kontak bakteri yang ada di usus dengan laktosa yang akan mencerna laktosa tidak berhasil, akibatnya akan timbul produksi gas dalam jumlah yang besar. Maka tak heran apabila biasanya anak yang tidak dapat mengolah laktosa dalam tubuh juga akan merasakan gangguan pada perutnya. Apabila sudah diketahui secara pasti jika anak anda mengalami intoleransi laktosa, pasti dokter akan menyarankan agar anak anda mengkonsumsi susu bebas laktosa agar reaksi-reaksi yang mengganggu tidak muncul kembali.
Berbeda dengan alergi susu sapi dimana konsumsi susu harus dijaga dengan ketat, pada intoleransi laktosa diet ketat terhadap laktosa tidak disarankan. Anda hanya perlu mengatur konsumsi susu sapi pada anak dalam jumlah yang sedikit sehingga tubuh dapat mengendalikan kontak terhadap laktosa tersebut. Anda bisa mencoba keju atau yoghurt dimana kandungan laktosanya lebih sedikit daripada susu akibat proses fermentasi dari bakteri asam laktat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*